ADAT MEMANDIKAN KUCING HITAM DAN BMKG PURBA, Sejarah dan Legenda Desa Gentong Kertosari (part 2)

-
Untuk ciri-ciri Zaman Logam adalah jika masyarakat prasejarah yang hidup di Nusantara (Saat ini Indonesia) telah mengenal budaya logam ini sejak kedatangan Bangsa Proto Melayu dan juga Deutro Melayu. Bangsa pertama yang datang dari Yunan (China Selatan), setelah itu gelombang kedua datang dari Dongson (kota kuno di Tonkin). Untuk Kebudayaan Zaman Logam di Indonesia sendiri ini mulai berkembang setelah kedatangan dari Dongson (Vietnam). Perlu diketahui, jika kebudayaan logam ini berkembang lebih pesat dibandingkan bangsa yang datang sebelumnya yakni berasal dari Yunan, daratan China.
(Sumber : 12 Kebudayaan Zaman Logam di Indonesia dan Fungsinya, artikel prasejarah, sejarahlengkap.com, alymansur, 8 Oktober 2019).

Persebaran kebudayaan perunggu di Indonesia dilakukan oleh ras Deutero Melayu, atau melayu kuno. Kebudayaan perunggu ini mereka bawa dari Dong Son, suatu desa di Lembah Song Hong, yang sekarang berada di daerah Vietnam.

Sejak tahun 1000an SM, desa itu menjadi salah satu pusat kebudayaan perunggu di benua Asia. Oleh karena itu, kebudayaan perunggu ini kerap dikenal sebagai kebudayaan dongson.
(sumber : Masa Perundagian : Pengertian, Sejarah dan Cirinya, insanpelajar.com, iqmal hakim, 11 Desember 2020)
ADAT MEMANDIKAN KUCING HITAM DAN BMKG PURBA, Sejarah dan Legenda Desa Gentong Kertosari (part 2)
Potret kehidupan masyarakat agraris bawah, saat ini

Wisata Situbondo || Lokasi Asta Gentong yang berada di Dusun Belikeran, Desa Kertosari, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur, Indonesia sebagaimana kegiatan mimin sebelumnya yaitu melakukan observasi lapangan dengan melibatkan Irwan Kurniadi, salah satu pegiat sejarah sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya Pratama Kabupaten Situbondo beserta 2 orang staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Situbondo, seksi Cagar budaya dan Museum yang sekaligus juga melakukan kegiatan aktif pendaftaran dan pemutahiran data benda kecagarbudayaan di Desa Kertosari menyisakan banyak temuan-temuan data baru termasuk semakin aktifnya semangat masyarakat Desa Kertosari melalui sosialisasi head to head tentang arti pentingnya menjaga kelestarian benda-benda pusaka yang memiliki arti penting yang tak ternilai harganya.

ADAT MEMANDIKAN KUCING HITAM DAN BMKG PURBA, Sejarah dan Legenda Desa Gentong Kertosari (part 2)
Potret kehidupan masyarakat agraris jaman kolonial belanda (koleksi abdul halek)

Saat kegiatan sosialiasi dan advokasi bersama tim dari Penyelamat Cagar Budaya Yayasan Museum Balumbung Situbondo dengan melibatkan banyak pihak diantaranya berkoordinasi dengan ketua RT, Kepala Dusun, Kepala Desa, Kapolsek Asembagus, Koramil Asembagus, Satpol PP Kecamatan Asembagus, termasuk juga dengan KODIM 0823 Situbondo, dalam kegiatan ini seolah membuka tabir misteri kehidupan peradaban masyarakat jaman prasejarah era mengenal logam yang ada di Desa Kertosari. Tentu saja meskipun lumayan menguras tenaga pikiran dan waktu dalam upaya pelestarian benda cagar budaya ini tetapi ada rasa kepuasan tersendiri bagi mimin yang ikut terlibat langsung, bukan itu saja yang mimin rasakan banyak hal diantaranya spirit lokal untuk membangun dan memajukan desa sendiri tiba-tiba muncul, nilai keakuan makin cinta desa sendiri itu secara tidak sadar keluar...😁 penyadarannya dan hidayahnya ternyata lewat sejarah😅 muncul juga rasa yang kuat untuk melindungi aset harta kebendaan yang tak ternilai harganya, karena temuan-temuan kebendaan tersebut tergolong langka di dunia.

sosialisasi dan koordinasi dengan Koramil Asembagus
koordinasi dengan Koramil Asembagus

ADAT MEMANDIKAN KUCING HITAM DAN BMKG PURBA, Sejarah dan Legenda Desa Gentong Kertosari (part 2)
Koordinasi dengan masyarakat lokal, kerabat desa dan Kades Kertosari

ADAT MEMANDIKAN KUCING HITAM DAN BMKG PURBA, Sejarah dan Legenda Desa Gentong Kertosari (part 2)
Koordinasi dengan Satpol PP Kecamatan Asembagus

ADAT MEMANDIKAN KUCING HITAM DAN BMKG PURBA, Sejarah dan Legenda Desa Gentong Kertosari (part 2)
Koordinasi dengan Polsek Asembagus

ADAT MEMANDIKAN KUCING HITAM DAN BMKG PURBA, Sejarah dan Legenda Desa Gentong Kertosari (part 2)
Koordinasi antar warga dan Babinsa

Saat berdiskusi dengan beberapa perangkat dan kepala desa sekaligus masyarakat sekitar mereka pun dengan semangat menunjukkan tempat-tempat yang katanya "ANGKER dan MISTIK"😁 dasar mimin yang tambeng bukannya mundur malah penasaran dan ingin menjelajahi tempat yang disampaikan  warga dusun belikeran tersebut.

Keesokan harinya, kami pun bergegas menuju rumah pak ketua RT, diawali dengan silaturahmi dan perbincangan ringan tentang sejarah dan legenda Desa Kertosari dan kami pun bergegas ke titik lokasi yang dimaksud oleh warga dan pak ketua RT.

ADAT MEMANDIKAN KUCING HITAM DAN BMKG PURBA, Sejarah dan Legenda Desa Gentong Kertosari (part 2)
Lokasi Sarandil

Lokasi pertama dengan menelusuri jalan setapak dan perbukitan adalah SARANDIL.

SARANDIL adalah lokasi batuan besar yang memiliki 2 titik yaitu batuan bawah yang ukurannya agak kecil dan batuan atas yang lokasinya diatas bukit. Sarandil hingga saat ini dianggap mistik dan keramat oleh warga sekitar, pada saat-saat tertentu masyarakat sekitar mengadakan upacara adat ritual khusus di tempat ini, biasanya dilaksanakan pada saat musim kemarau yang sangat panjang atau pada saat musim  hujan awal tapi hujannya nggak lebat atau sering nyendat.


Dalam ritual tersebut masyarakat sekitar akan membawa berbagai makanan dan jajanan tradisional, melalui serangkaian doa dan puji-pujian dengan keyakinan mereka tentu saja harapan mereka adalah  hujan segera turun dan membawa berkah keselamatan serta tanaman pertanian mereka subur.


Rangkaian acara sebelum makan bersama dilokasi tersebut adalah adat memandikan kucing hitam polos, biasanya yang membawa adalah tetua adat atau anggota masyarakat sekitar. kesaksian yang  diungkapkan oleh beberapa warga dusun belikeran biasanya sering ikut kegiatan ritual tersebut.


Perjalanan kami lanjutkan menuju Taman Gentong, dan sebagian masyarakat dusun belikeran mempercayai tempat ini juga keramat dulunya. Setelah kami datangi kemudian sedikit dibersihkan ternyata terlihat bongkahan batu yang berlobang-lobang setelah kami hitung sementara terdapat 5 lobang yang diperkirakan berfungsi untuk menampung air hasil tetesan yang mengalir dari celah-celah batuan diatasnya.

ADAT MEMANDIKAN KUCING HITAM DAN BMKG PURBA, Sejarah dan Legenda Desa Gentong Kertosari (part 2)
Tetesan air di Taman Gentong, pertanda musim kemarau telah tiba

ADAT MEMANDIKAN KUCING HITAM DAN BMKG PURBA, Sejarah dan Legenda Desa Gentong Kertosari (part 2)
Batuan berlobang yang banyak ditemukan di sekitar Taman Gentong

Kisah unik yang diceritakan warga sekitar, bahwa mereka sangat percaya dan sering membuktikan bahwa saat musim penghujan tiba Taman Gentong tidak mengeluarkan air dari sumbernya, tetapi pada saat musim Kemarau tiba maka air itu akan keluar dari sumbernya dan itu menjadi sebuah tatenger bahwa saat air mengalir di Taman Gentong sudah mendekati kemarau dan bukan waktunya bercocok tanam, karena dusun belikeran memiliki karakter sistem pertanian tadah hujan. Kayak semacam istilah BMKG TRADISIONAL JAMAN KUNO yaaa geeessshh😁😁😁😁🙏

Cerita yang disampaikan oleh masyarakat dusun belikeran semakin berkembang, termasuk lokasi gua-gua yang berada di sisi selatan sekitar tebing-tebing yang terjal dengan berbagai ukuran serta daya tampung saat mereka (masyarakat prasejarah) tinggal di dalamnya. dalam pelajaran sejarah waktu mimin sekolah dasar, bahwa katanya dalam buku itu menyebutkan bahwa, masyarakat prasejarah hidupnya nomaden (pindah-pindah) dari gua satu ke gua lainnya, karena orang dulu kan belum ada teknologi seperti sekarang dalam membuat tempat tinggal sehingga lebih mengandalkan gua, bahkan salah satu warga bilang ada gua yang besar dan dalam diperkirakan bisa menampung 100-200 orang di  dalamnya, wuuuiiiihhhh ibaratnya kalo sekarang apartemen jaman purba ya geeesssshh😅🤭

Temuan-temuan di dusun belikeran Desa Kertosari seperti membawa kami melangkah untuk melihat jejak-jejak perjalanan kehidupan mereka (masyarakat prasejarah), mulai dari dimana tempat mereka membuat kubur saat salah satu anggota keluarganya meninggal dunia, lokasi dimana mereka melakukan pemujaan dan ritual, lokasi dimana mereka mengambil air untuk kebutuhan hidup mereka untuk 
minum, dimana lokasi hunian mereka yang aman dari serangan hewan buas dan perubahan cuaca.

Sungguh ini sebuah pengalaman luar biasa dalam  menguak misteri teka-teki pola hidup masa silam melalui penelusuran sejarah dan peradaban masyarakat Desa Kertosari ini. Melalui upaya sosialiasasi bersama, kini masyarakat Desa Kertosari mulai sadar dan menjaga wilayah mereka masing-masing dalam menjaga benda-benda sejarah kebudayaan para leluhurnya.

Okeeeeh geessss....pada episode berikutnya semoga mimin bisa mengupas lebih dalam lagi pada segmen jelajah apartemen purba yang ada di dusun belikeran.

Sampai Jumpaaaa

Salam Budaya🙏🇮🇩

R A H A Y U

BACA ARTIKEL LAINNYA

6 Komentar

  1. Firly Fauziah17 Maret 2021 21.31

    Ini yg nulis mabuk. Membedakan proto dan deutro saja keliru. Tulisan ini sebagian besar tidak bisa dipercaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahyu Firmansyah17 Maret 2021 21.32

      Hargai usahanya.

      Hapus
    2. kami siap belajar sama kamu, supaya kepintaranmu bermanfaat daripada hanya bisa mencaci dengan kalimat sampah dan mengatakan kami mabuk, bisa jumpa darat dan debat publik?

      Hapus
    3. terimakasih bro wahyu firmansyah atas perhatiannya

      Hapus
  2. Bila orang bodoh diberi panggung, beginilah jadinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kami sangat senang menilai kamu sebagai seorang hatter sampah dengan komentar yang tidak bermanfaat untuk masyarakat, panggungmu salah tempat saat berkomentar disini, tukang hatter panggungnya di selokan saja, mungkin itu lebih berguna buatmu

      Hapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama