KISAH CINTA ABADI PUTRI ANGGRAENI Dan PATIGENI

-

 

KISAH CINTA ABADI PUTRI ANGGRAENI Dan PATIGENI
puncak Agung gunung purba Ringgit

Wisata Situbondo || Dikisahkan sebagai pitutur dan kepercayaan yang melekat kuat pada masyarakat dusun Oloh, Desa Patemon hingga saat ini, 

bahwa jaman dahulu ada seorang putri raja bernama putri Anggraeni yang jatuh cinta kepada seorang pemuda bernama Patigeni, yang pada saat itu sebagai panglima perang kerajaan. Sang dewi Anggraeni yang cantik jelita benar-benar jatuh cinta dengan ketampanan dan kegagahan seorang panglima perang Patigeni.

Pucuk dicinta ulam pun tiba ternyata cinta sang putri tidak bertepuk sebelah tangan, sang Patigeni pun juga sangat tertarik dengan kecantikan sang putri. Perasaan cinta putri Anggraeni yang luar biasa membuatnya selalu rindu dan ingin bertemu dengan Patigeni, hubungan mereka pun terbuai oleh perasaan asmara yang tidak diketahui oleh sang raja (orang tua putri Anggraeni). Kisah cinta sembunyi-sembunyi ini berlangsung cukup lama dan akhirnya Patigeni pun memberanikan diri untuk melamar sang putri, dengan niat tekad dan bulat sang Patigeni berangkat lah menghadap sang raja. Ternyata kisah cinta mereka berdua pun telah diketahui secara samar oleh sang raja. tanpa diduga oleh sang Patigeni, harapan yang begitu besar untuk meminang dan memiliki putri anggreani pun pupus karena sang raja menolak keras pinangan sang Patigeni.

Rasa kecewa bukan hanya menyelimuti perasaan sang patigeni, tetapi juga dirasakan oleh putri Anggraeni. Dalam hati sang putri anggreani berniat meskipun nyawa, dia rela serahkan demi bisa hidup bersama dengan sang Patigeni.

Akhirnya sang putri Anggreani pun kabur dari kerajaan mencari sang patigeni dan mereka pun bertemu. Mereka berdua kabur dari lingkungan kerajaan dan hidup sederhana disebuah tempat terpencil. Kaburnya sang putri membuat raja murka dan marah besar dan memerintahkan semua prajurit kerajaan untuk mencarinya. Tak beberapa lama akhirnya mereka berdua di tangkap dan dibawa kembali ke kerajaan. Atas perintah raja, sang Patigeni dihukum dan dipenggal kepalanya, jasad kepalanya dibuang ke laut sementara tubuhnya di pendam di daerah pesisir dan putri anggreani dibuang ke hutan hingga meninggal dunia. 

Kedua tokoh yaitu putri Anggraeni dan sang Patigeni setelah meninggal dunia kemudian menjelma menjadi pohon aren dan pohon kelapa. Hal ini menjadi kepercayaan masyarakat dusun oloh desa Patemon, Kecamatan bungatan hingga saat ini. Ritual khusus yang dilakukan oleh masyarakat dusun oloh salah satunya adalah dengan memukul-mukul pohon aren dengan puji-pujian yang menyebutkan nama putri Anggraeni dan dipercaya pohon aren akan menghasilkan air nira yang banyak, buah kolang Kaling yang melimpah dan memberikan keuntungan secara ekonomi secara nyata kepada masyarakat dusun oloh. 

KISAH CINTA ABADI PUTRI ANGGRAENI Dan PATIGENI
Pohon aren di dusun Oloh

PATIGENI adalah toponim atau pengucapan yang sama dengan Patekani berasal dari nama santan perasan pertama yang bersifat lebih kental. Pate yang berarti santan dan kani bermakna kental.

Disampaikan oleh ketua RT bahwa dalam proses pembuatan gula merah aren pasti mencampurkan sedikit minyak kelapa, dan pada saat dikonsumsi langsung pun antara kelapa muda jika menggunakan gula merah aren akan terasa lebih nikmat, banyak kisah-kisah nyata yang saat ini jika dicampurkan antara hasil produksi pohon aren dengan hasil produksi pohon kelapa akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa, baik citarasa, tekstur, dan keunikan lainnya. Dari segi bentuk pun antara pohon aren dan pohon kelapa hampir sejenis, sama-sama berdaun panjang, berpohon panjang dan berusia puluhan tahun, akar serabut, memiliki ijuk, buah kelapa yang berkoloni juga sama hanya saja buah aren menjuntai memanjang ke bawah laksana perhiasan seorang putri.

Kisah ini disampaikannya oleh ketua RT pak saiful dan pitutur dari tokoh masyarakat pak hosnan. Tanggal 22 Nopember 2020

Post a Comment

Previous Post Next Post