RITUAL MEMANGGIL HUJAN

WISATA SITUBONDO || sore kemarin tanggal 5 Agustus 2020, saya dan teman-teman budayawan muda situbondo....
Para pamojhi HODO
Pojhian Hodo - Ritual Kesuburan Masyarakat Madura Agraris di Kawasan Situbondo Timur

Pojhian Hodo adalah salah satu seni resitasi yang masih dihidupi oleh masyarakat Madura agraris di Kabupaten Situbondo. Pojhian ini konon berasal dari padukuhan Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Situbondo. Masyarakat yang mendiami sekitaran padukuhan Pariopo dan Lowa, berdasarkan penuturan salah satu tokohnya adalah keturunan masyarakat migran dari pulau Sepudi dan Sumenep Madura. Pada mulanya kesenian ini seperti halnya kesenian pojhian yang lain yakni berbentuk acapella (musik vokal),  seiring dengen perkembangan jaman kemudian berkembang dengan iringan musik gamelan kecil (seperti format dhangkung). 

Bentuk musiknya repetitif, dan terdiri atas dua bagian. Bagian pertama dibuka oleh permainan suling yang membawakan melodi Tembhang Pamojhi dengan cengkok melodi khas suling Madura, kemudian disusul oleh syair vokal resitasi seorang pelaku, dengan teknik vokal kejhungan. Syairnya berbahasa Madura dan Arab, sekilas juga ada beberapa kata yang arkais yang tidak biasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada bagian pertama juga diperagakan gerakan koreografi sederhana seperti mengangkat kedua tangan ke atas seperti berdoa, dan beberapa kali tangan digerakkan dari atas ke bawah seperti gerakan menurunkan hujan. Pada bagian ke dua, musik iringan gamelan mulai bermain mengiringi vokal koor yang dibunyikan oleh seluruh pelaku ritual. Seperti halnya pojhian lainnya, suara vokal saling bersahutan dan tumpang tindih membentuk ritme yang unik. Salah seorang informan Halene Bouvier di Sumenep dahulu menyebut bentuk musik arkais itu dengan sebutan "orkes katak". Mereka menari lalu memutari makam keramat dan ditutup dengan duduk kembali ke formasi awal. 
Gerakan tari dan mengucapkan beberapa kata mirip Acapela
Bagi masyarakat setempat, ritual ini digunakan untuk memanggil hujan, selamatan pertanian, selamatan penolak bala, maupun untuk kepentingan nadzar. Saat ini pojhian Hodo tidak hanya dilaksanakan di dukuh Pariopo saja, tetapi tidak menuntut kemungkinan untuk dilaksanakan di pelbagai tempat yang lain. 

Kemarin saya ditemani oleh mas Agung hariyanto, Mas Lutfi, Mas Eeng dan Mas Sopyan menonton Pojhian Hodo di Desa Sopet. Pojhian Hodo dari Pariopo diundang oleh masyarakat di desa Sopet untuk melakukan ritual di tiga titik lokasi. Lokasi pertama di rumah Bapak Ahwana (si pemilik hajat), lokasi kedua di Makam Juju' Mardinah di dusun Panampan, dan lokasi ketiga di makam Juju' Rama Agung Kamije sebelah utara Balai Desa Sopet. 

Aroma mistik semakin terasa saat bersamaan pembakaran kemenyan 
Pagelaran kemarin memberikan pemaknaan baru dari gambaran pertunjukan Hodo di Pariopo sebelumnya. Di Sopet, pertunjukan pojhian Hodo tampak "apa adanya", bebas intervensi, ada tanda' banci (penari banci) dan menggambarkan bagaiman acara ritual itu dilakukan oleh masyarakat di masa lalu. Mengunjungi lokasi Bujuk (makam keramat), mengelilingi makam, membakar dupa dan ritual trance (kesurupan) yang dilakukan oleh para pelaku. Mungkin bisa dibilang moda "play" jika boleh meminjam istilah mas Lono Simatupang. Saya teringat dengan ilustrasi dalam tulisan Bouvier tentang pojhian Dhemong Ghardam di Sumenep Madura. Barangkali memang ada keterkaitan antara bentuk pojhian satu dengan yang lainnya dalam kebudayaan masyarakat Madura jika dilihat dari struktur dan bentuknya yang "mirip".  

Penulis : Panakajaya H
Previous Post Next Post