(Part 2) KADHISA, RITUAL MISTIK MASYARAKAT BADERAN LERENG ARGOPURO

KADHISA, RITUAL  MISTIK MASYARAKAT BADERAN LERENG ARGOPURO
Salah satu rangkaian prosesi KADHISA
WISATA SITUBONDO || Kata KADHISA, istilah ini cukup asing bagi sebagian masyarakat Situbondo pada umumnya. Tetapi bagi masyarakat wilayah Kecamatan Sumbermalang, mereka mengartikan sebagai bentuk kegiatan spiritual budaya yang memiliki arti penting dalam pola kehidupan masyarakat sehari-hari. KADHISA atau semacam acara Selamatan Desa diadakan secara turun-temurun sejak jaman dahulu terutama di daerah Kecamatan Sumbermalang sisi selatan, kegiatan tersebut dilaksanakan pada pertengahan tahun dan dilaksanakan antar desa berselisih waktu satu hari.
KADHISA, RITUAL  MISTIK MASYARAKAT BADERAN LERENG ARGOPURO
Sapi Condek
Desa Baderan mengawali pada acara hari pertama hingga hari ketiga, rangkaian acara pada hari pertama adalah pemotongan hewan ternak sapi. Bukan sapi biasa, sapi tersebut harus berbulu putih dari kepala hingga kaki, mereka menyebutnya sapi CONDEK, cerita mas Joni sahabat saya sekaligus Kepala Desa Baderan dan beliau juga salah satu pendiri Pokdarwis Terpadu Soeradikara Situbondo, menceritakan bahwa mendapatkan sapi CONDEK bukan hal yang gampang bahkan harus mempersiapkan berbulan-bulan demi terlaksananya acara KADHISA. Sapi CONDEK dagingnya akan dijadikan sajian dan suguhan yang nantinya akan dimakan bersama-sama oleh warga. Kemudian masyarakat akan berduyun-duyun membawa ancak berisi makanan dan jajanan tradisional yang dibawa ke rumah kepala desanya. Niat mereka sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka, ungkapan rasa terimakasih kepada leluhurnya termasuk para pembabat tanah desa baderan, serta penghargaan kepada kepala desanya sendiri.
KADHISA, RITUAL  MISTIK MASYARAKAT BADERAN LERENG ARGOPURO
Ratusan ancak yang diarak menuju rumah Kepala Desa
Hari Kedua, KIRAP ANCAK adalah kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dengan membawa berbagai jenis makanan tradisional beserta kue yang berbagai jenis bentuknya serta nama-nama yang berbeda pula dikemas dalam wadah yang terbuat dari pelepah pisang berbentuk segiempat bernama ANCAK. Pada pagi hari sekitar jam 08.00 para bapak dan ibu membawa ancak tersebut menuju rumah kepala desa, dengan diiringi doa bersama dipimpin tetua adat atau tokoh masyarakat yang dihormati sebagai sesepuh desa, mereka melakukan ritual dengan harapan doa keselamatan dari bencana, harapan hasil pertanian/ladang mereka mendapatkan hasil panen yang melimpah. Dalam SASANDHING atau Ancak yang berisi makanan harus lengkap, termasuk prosesi-prosesinya hingga hari ketiga.

Hari Ketiga, Prosesi acara dimulai pagi dengan arak-arakan ANCAK oleh anggota masyarakat menuju tempat yang dianggap sakral bernama asta PANYANDHEREN Adalah sebuah tempat berupa struktur batu lempeng yang tertata rapi berbentuk persegi segiempat awalnya, tetapi saat ini berubah menjadi sebuah makam yang dikeramatkan. Doa dipimpin oleh tetua adat yang kemudian berlanjut pada atraksi POJHIEN TOJUK, mereka mengucapkan beberapa kalimat yang dianggap sebagai doa kuno dengan penuh keyakinan mereka baca sambil duduk mengelilingi makam atau bhujuk atau disebut juga asta yang dikeramatkan tersebut. Terlihat sepintas doa yang mereka bacakan  berupa mantra-mantra kuno masyarakat sekitar menyebutnya dengan istilah pojhien tojuk. Istilah PANYANDHEREN berasal dari kata SADHEREN, adalah kegiatan mengolah bubur sebagai prosesi awal leluhur mereka sebelum melaksanakan acara membuka hutan.

Selanjutnya adalah acara Kerapan Sapi adalah dua ekor sapi yang harus berwarna, satu sapi berbulu hitam dan satu sapi berbulu putih, seperti layaknya kerapan sapi. Yang membedakan dengan kerapan sapi madura adalah, bukan sapi balap seperti yang diperlombakan, tetapi sapi-sapi pedaging yang dipertontonkan sebagai bagian dari rangkaian seremonial. Bukan tentang adu kecepatan sepasang sapi tetapi lebih pada keharusan ada pada saat acara KADHISA.

Sebuah formalitas yang wajib dilakukan adalah sepasang sapi tersebut harus ada. Saat saya tanyakan kepada mas Joni, jika tidak dilaksanakan ritual tersebut apa yang akan terjadi?
Tentunya kekhawatiran gagal panen pada tanaman tegalan mereka, wabah hama salah satunya seperti serbuan monyet liar ke pemukiman, ada beberapa warga yang berperilaku gila, desa menjadi tidak tenteram. 

Budaya KADHISA, menjadi sebuah keyakinan yang harus mereka lakukan, bukan tentang esensi pada Konservasi Kebudayaan belaka tetapi lebih kepada keyakinan yang menjadi wasiat turun-temurun warisan para leluhur mereka sendiri.

Gaeeeesssssshhhh.....perjalanan dua hari satu melam memiliki kesan unik, kagum dan untuk kali ini, sekali lagi penulis sangat menikmati kegiatan ritual budaya ini, banyak mendapatkan ilmu pengetahuan serta keyakinan bahwa budaya memiliki kekuatan supranatural yang mampu menggerakkan perilaku manusia, budaya mampu menciptakan suasana yang guyup rukun harmoni selaras seimbang antara kekuatan manusia dan alam semesta.
Desa Wisata Baderan Jooooosssh !!!

SALAM BUDAYA 🙏🇮🇩
(AG)

BACA INFO ADAT DAN RITUAL LAINNYA
Previous Post Next Post