Tradisi TONGNGEPPAN di Tengah Arus Modernisasi

-

Wisata Situbondo || Salah satu tradisi unik pada bulan Safar biasanya banyak dilaksanakan oleh masyarakat Situbondo adalah Tongngeppan. 


Banyak makna dalam sebuah ritual tradisi tongngeppan ini, diantaranya muncul sebuah rasa kebersamaan, gotong royong, tepo seliro sebagaimana citra masyarakat pedesaan, rasa bahagia yang mereka laksanakan pun juga seolah mereka tunjukkan kepada publik sebagai sebuah pesan kuat bahwa pihak keluarga perempuan bukan keluarga yang bisa diremehkan oleh pihak keluarga pria, semakin banyak rentetan atau barisan para ibu-ibu muda dan paruh baya akan semakin kelihatan bahwa pihak keluarga wanita adalah keluarga besar yang kompak dalam segala hal apapun.


Prosesi ritual tongngeppan di Desa Palangan, Jangkar

Tradisi tongngeppan adalah salah satu ritual tradisi kuno turun temurun yang dilaksanakan sejak jaman dulu dan menjadi sebuah peninggalan kebudayaan bukan benda, kegiatan ritual tongngeppan sendiri merupakan salah satu bagian penting dari prosesi acara pernikahan tradisional di masyarakat Situbondo.


Biasanya tongngeppan dilakukan oleh keluarga besar pihak wanita dengan mendatangi rumah kediaman keluarga pria dengan membawa tenong (terbuat dari plat besi tipis) berisi kue atau jajanan tradisional yang berjalan berbaris dan memanjang dengan berjalan kaki yang diatas kepalanya membawa tenong berisi aneka jenis jajanan atau kue tradisional.


Tujuan ritual tongngeppan ini adalah sekedar memberitahukan kepada pihak keluarga pria, bahwa sebentar lagi dalam beberapa jam pada hari itu akan dilaksanakan prosesi akad nikah di rumah calon mempelai wanita. Demikian pun keluarga pihak mempelai pria juga mengharap kehadiran keluarga besan wanita untuk memberitahukan kapan acara akad nikah akan dilaksanakan. Sebagai bentuk seserahan keluarga besar calon mempelai wanita memberikan tenong berisi aneka kue dan jajanan tersebut.


Jumlah peserta yang ikut dalam acara ritual tongngeppan ini pun berkisar antara 10-50 orang wanita bahkan bisa lebih, tradisi tongngeppan saat ini sudah langka dan jarang terlihat terutama dilingkungan masyarakat perkotaan dan hanya kelompok masyarakat pedesaan, masyarakat sekitar pantai yang masih memegang teguh adat tradisi ini.


selain kue dan jajanan tradisional sebagai "saserra'an" dalam prosesi ritual ini, hal yang harus ada berupa beberapa buah kelapa, pisang, termasuk juga buah pinang yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Bagaimana jika tradisi ritual tongngeppan ini jika tidak dilaksanakan? dan kenapa harus dilaksanakan? 


Ternyata dari beberapa nara sumber terutama "bok-ebok" yang pernah bahkan sering mengikuti ritual tongngeppan seperti ini, jika tidak dilaksanakan akan mendapatkan sanksi sosial berupa "e kacator oreng" atau menjadi pembicaraan buah bibir negatif di masyarakat, tetapi jika yang melaksanakan acara ini diikuti oleh peserta jumlah banyak justru akan mendapat pujian dan sanjungan di masyarakat. (AG)


sumber narasi : (M&Z)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama